Medan Berat Menuju Sekolah di NTT Tak Halangi Murid Belajar

Matahari belum terbit di Dusun Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pagi itu di bulan Juli. Namun Patria Helena “Helen” Delasmi, 9 tahun, dan adik laki-lakinya Yanuarius Theodata Giarto alias Gian, 6 tahun, sudah siap pergi sekolah. Sambil menunggu sarapan dihidangkan, kakak beradik itu bermain dengan adik bungsu mereka yang berusia tiga bulan yang sedang digendong nenek mereka. Setiap hari Helen dan Gian harus bangun subuh karena jarak sekolah yang jauh dan perjalanannya mirip petualangan lintas alam – berjalan kaki 30 menit sampai satu jam melewati jalan tanah yang berbatu, melewati hutan, padang rumput dan aliran sungai. Namun mereka tidak punya pilihan karena hanya ada satu sekolah dasar di Nggilat, yakni SDI Hawir, untuk tiga dusun dan desa tetangga, Singkul. Sekolah itu telah dipilih untuk ambil bagian dalam program KIAT Guru untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Program rintisan ini adalah hasil kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan (TNP2K) dan dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Barat, serta diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari Bank Dunia dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>