Human Interest Story: Illiterate, Parents Make Sure Their Children Able To Read Better

Waktu menunjukkan pukul dua sore lewat enam menit. Seorang anak laki-laki yang baru naik kelas tiga masuk ke ruangan kelas dengan buku tulis dan pensil ditangannya. Raut mukanya terlihat sedikit bingung untuk menentukan dimana ia harus duduk dan dengan siapa ia akan belajar sore itu.

“Sini.. sini.. dik,” ucap Pak Natalis—salah satu anggota Kelompok Pengguna Layanan Desa Balai Pinang Hulung, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang—sambil melambaikan tangannya dan melangkah menjemput sang anak untuk mengikutinya, duduk berhadapan dengannya di meja belakang ruang kelas.

“Siapa namamu?” tanya Pak Natalis. Sang anak menyebutkan namanya*. “Kelas berapa kamu?” sambung Pak Natalis.

“Kelas tiga,” jawab anak laki-laki berkulit gelap manis dengan lugu.

“Kamu baru naik kelas tiga, ya?” Pak Natalis bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya, berada di kelas berapa anak tersebut di tahun ajaran sebelumnya sebagai acuan tingkat kemampuan yang perlu diukur pada anak hari itu. Anak menganggukkan kepalanya. Pak Natalis lalu mencatat anak tersebut sebagai kelas dua. Melalui penilaian Tes Cepat, akan dilihat apakah sang anak sudah mencapai kemampuan dasar Bahasa Indonesia dan Matematika kelas dua sebagai persyaratannya untuk naik kelas tiga.

Kenyamanan dan kemahiran Pak Natalis dalam melakukan tes cepat sangatlah mengejutkan. Tiga hari sebelumnya, saat menggelar pelatihan Tes Cepat untuk kader dan KPL KIAT Guru di Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang Fasilitator Masyarakat KIAT Guru sangat khawatir terhadap kemampuan Pak Natalis. Pasalnya, beliau dinilai pemahamannya paling rendah ketimbang peserta lainnya. Beranjak dari kekhawatiran tersebut, Pak Natalis pun diajak Fasilitator untuk melakukan latihan tambahan sehari sebelum pelaksanaan tes. Latihan yang mengambil waktunya di pagi hari sebelum berangkat ke tempat kerjanya di perusahaan sawit tidaklah dijalankannya dengan menggerutu. Pak Natalis malah mengikutinya dengan seksama dan mengatakan bahwa merasa lebih nyaman saat diberikan pelatihan secara individu oleh fasilitator.”Hari ini, kakak mau belajar bersama adik Bahasa Indonesia dan Matematika. Adik mau?” tanya Pak Natalis sebagai pengantar kepada anak sebelum memulai tes. “Mau…,” sahut anak dengan lembut. Tes pun dimulai. Tidak sampai 15 menit tes selesai. Pak Natalis mengucapkan terima kasih kepada sang anak dan memberinya sebuah rautan dan penghapus sebagai tanda penghargaan atas waktunya. Pak Natalis tersenyum melihat hasil anak yang cukup memuaskan. Anak tersebut benar sudah mencapai kemampuan dasar kelas dua. Anak kedua, ketiga hingga kedelapan secara bergiliran menghampirinya untuk belajar bersama.

Hasilnya, fasilitator benar-benar terkejut sekaligus bangga melihat Pak Natalis yang dengan santai dan penuh konsentrasi memberikan soal-soal Bahasa Indonesia dan Matematika kepada anak yang dinilainya.

Kesabaran dan kemahirannya sangat terlihat saat beliau menilai kemampuan seorang anak laki-laki yang baru naik kelas dua. Anak ini merupakan anak ketujuh yang dinilainya hari itu sehingga tidak heran jika rasa lelah mulai menghampirinya. Namun, tak tersirat sama sekali di wajah Pak Natalis rasa itu meskipun bocah berbadan mungil di depannya memulai bacaan pertama dengan pengejaan yang sangat lambat dan lama.

“N-i ni.. n-a na… Nina… p-e- pe-r-per… g-i-gi… pergi,” tutur anak tersebut terbata-bata.

Meski rasa iba menghinggapinya, Pak Natalis tetap diam dan menahan diri dari keinginan membantu sang anak membacakan soal yang sedang dikerjakannya. Ia ingat bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menilai kemampuan anak yang sebenarnya, tanpa bantuan guru maupun orang tua untuk menjawab soal-soal tersebut. Pak Natalis terus menatap dan mendengar saat sang anak bergumul membacakan 4 kalimat bacaan di depannya. Beliau hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda memberi semangat yang tidak bersuara.

Setelah dua menit, anak selesai membaca 4 kalimat tersebut. Saat diberikan pertanyaan terkait pemahaman terhadap bacaan tersebut, anak pun tidak bisa menjawabnya dengan benar. Karena sifat tes yang disesuaikan dengan kemampuan anak, Pak Natalis pun mencoba menurunkan tingkat kesulitan soal ke pengenalan huruf.

Pak Natalis menyebutkan satu huruf pada si anak dan si anak diharapkan dapat menunjuk dengan benar, huruf yang disebutkan Pak Natalis dari pilihan huruf yang tersedia. Huruf pertama dijawab dengan benar; namun saat disebutkan huruf kedua, anak gagal untuk menunjuk dengan benar. Maka, sesuai instruksi pada saat pelatihan, Tes Bahasa Indonesia pun dihentikan dan dilanjutkan dengan Tes Matematika. Kemampuan sang anak tidak jauh berbeda untuk kedua mata pelajaran yakni di bawah standar kemampuan kelas satu padahal si anak barusan naik ke kelas dua.

Melihat sendiri kemampuan anak-anak yang tidak mencukupi standar kemampuan dasar Bahasa Indonesia dan Matematika membuat Pak Natalis prihatin sekaligus lebih tergerak untuk memastikan anak-anak di desanya dapat membaca, menulis dan menghitung lebih baik daripada kemampuannya sendiri. Beliau tidak sempat mengenyam pendidikan yang tinggi. Oleh karena itu, beliau berharap anak-anak di desanya akan lebih berpendidikan daripada dirinya.

Saat ditanya kesannya terhadap KIAT Guru dan Tes Cepat, Pak Natalis mengatakan, “Saya senang dapat bergabung dengan KIAT Guru, apalagi dengan adanya pelatihan dan pelaksanaan teks cepat kemampuan dasar murid ini. Dengan dilatih melakukan Tes Cepat, saya bisa tahu cara mengajar anak dengan lebih baik dan saya bisa tahu kemampuan sebenarnya anak SD di desa saya.” Beliau juga berencana untuk memberikan tes tersebut kepada anak-anak lain di desanya yang belum sempat dinilai hari itu.

Kisah Pak Natalis membuktikan bahwa para orang tua dan anggota masyarakat lain di sekitar sekolah dapat mendukung anak untuk mendapatkan pembelajaran berkualitas. Pak Natalis telah mengalahkan kekhawatiran dan kekurangan yang menghantuinya; “Apakah orang yang tidak berpendidikan guru seperti saya boleh dan bisa melaksanakan tes untuk anak sekolah?” Cerita ini juga mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab dan kerja sama antara guru dan orang tua murid. Oleh karena itu, orang tua murid pun perlu mengetahui jenis-jenis kemampuan dasar dalam membaca, menulis dan menghitung yang perlu dimiliki anak.

Selain sebagai perangkat untuk mengukur perkembangan kemampuan dasar murid di SD peserta rintisan KIAT Guru setelah satu semester berjalannya program, tes cepat juga adalah salah satu cara cepat, tepat dan mudah dilakukan oleh masyarakat desa terpencil, yang sebagian besar tidak memiliki sarjana pendidikan atau latar belakang pedagogi lainnya.

Dengan perangkat tersebut, masyarakat dapat mengetahui tidak hanya jenis-jenis pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Dasar tetapi sejauh mana anak-anak mereka menguasai kemampuan baku yang diperlukan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Hasil dari tes cepat ini juga diharapkan dapat memunculkan janji layanan antara masyarakat dan sekolah yang jika dilakukan, akan berdampak pada peningkatan kemampuan dasar murid.